Tuesday, August 14, 2007

cemburu

Ajarkan Aku Jadi Pencemburu

“Ketika hati telah mengaku cinta
Maka akan dihadapkan
kepada ayat-ayat ujian dan penafsiran
untuk membuktikan semuanya.”
(Amru Kholid)


Cemburu itu ada karena cinta. Setelahnya, tergantung sikap kita. Cemburu, memang menggemaskan. Kadang, berselimutkan duka, terselipkan sekeping dendam. Tapi, kadangkala justru sebagai pertanda betapa kita tidak bisa membohongi hati nurani sendiri kalau segenggam rasa itu ada. Mengusik dan akhirnya membuat hati gundah gulana.

Cemburu itu merupakan rasa kecintaan di mana tak boleh tersentuh yang lain. Hanya untuk kita. Diri kita sendiri. Rasa cemburu demikianlah sejatinya bisa mendatangkan cinta.

Cinta, memang bahasa universal. Dengan cinta, orang bisa menjadi sosok pecundang. Tapi bisa pula menjadi pahlawan. Tergantung, bagaimana pemikiran dan sikapnya. Manusia, tentu akan beragam dalam memaknainya. Jika dia seorang muslim, tentu akan terikat akan pijakan dan ajaran yang diyakininya. Pijakan kepada wahyu suci dan Muhammad sebagai teladan sepanjang zaman.

Hari ini, saya tidak akan menyoal tentang cinta. Tapi, akan sedikit berbagi gelisah tentang rasa cemburu. Rasa cemburu kepada Dia yang telah memberikan secara gratis setiap nafas yang setiap hari saya hirup.

Dia yang telah mengatur detik waktu dengan memberikan segenap kemurahan dalam keseharian kehidupan. Tepatnya, memang bukan tertuju kepada Dia semata, tapi lantaran segenap manusia yang berlomba-lomba mencintaNya. Ya, sekali lagi tentang cemburu yang dengan harap mendatangkan rasa cinta.

Di zaman ini, kekeringan cinta dan spiritual memang kerap melanda. Bagaimana tidak. Berbondong-bondong orang mengejar rupiah. Ketika dikejar ia lari. Ketika kita diam ikut diam. Simalakama. Bukan tanpa alasan. Inilah fakta yang mungkin terasakan. Entahlah. Memang tak seratus persen benar. Tapi, izinkan itu sebagai gambaran bagaimana sibuknya kita.

Hari demi hari, tersibukkan dengan aroma rupiah. Bukan bermaksud merendahkan orang yang terlalu ambisius mengejar untung dan penghasilan. Hanya ingin sekedar menyapa hati betapa ada kalanya oase jiwa yang mengering perlu kita basahi dengan ayat-ayat Tuhan. Tentang rahasia semesta yang fana. Tentang keyakinan akan dunia “sana” yang hakiki.

Hari ini, saya begitu cemburu. Ya, kepada orang yang seimbang hidupnya. Kepada mereka yang menyeimbangkan rasa cinta dunia dan akhirat. Kepada mereka yang semangat bekerja tapi tidak terlalu ngoyo dalam bekerja. Dalam kesehariannya, mereka bisa membagi waktu antara urusan kehidupan duniawi dan urusan penghambaan kepada Tuhan. Singkatnya, orang yang bisa memaknai secara benar atas eksistensi dirinya dimuka bumi dan pemahaman yang tepat tentang pentingnya sentuhan spiritualitas yang akan mendatangkan kebahagiaan kelak di kemudian hari, hari yang telah dijanjikan dengan segenap kenikmatannya.

Seperti yang pernah terlihat pada seseorang di masjid pada sebuah pagi. Sekira jam delapan. Lelaki itu, dengan baju kantor lengkap dengan dasinya, mampir ke sebuah masjid. Dibasuh mukanya dengan air wudhu. Dia sholat Dhuha, membaca Al-Quran lantas berdoa sejenak. Setelahnya, bergegas memacu motornya ke kantor dengan semangat prima. Bekerja demi seutas seyuman untuk anak dan isterinya di rumah.

Jujur, saya begitu cemburu dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Lelaki yang bisa menyeimbangkan hidup. Semoga, rasa cemburu ini bisa mendatangkan rasa cinta kepadaNya lebih besar dan lebih besar lagi. Pelan-pelan, nampaknya sisi jiwa ini begitu mengering dan mengeras. Mungkin, inilah saatnya untuk membasahi diri dengan Ayat-ayat CintaNya agar keseimbangan hidup semakin terjaga. (tur)

Monday, August 13, 2007

Kisah Hati

Menyentuh Pelangi
Alkisah seorang tuna netra bernama Kusnadi, yang berprofesi sebagai tukang pijat. Cerita ini dikisahkan oleh seorang trainer yang menjadi langganan Mas Kus ini ketika mahasiswa dulu. Saat itu Mas Kus berusia 27 tahun. Singkat cerita, pada suatu kesempatan si trainer ini bertanya-tanya tentang kehidupan sang tukang pijat langganannya itu.
Berpenghasilan seadanya dan tinggal mengontrak di sebuah tempat kos. Si trainer ini bertanya mengapa tidak tinggal saja di mess karena sewa kamar-nya jauh lebih murah. Kemudian Mas Kus menjawab, bahwa ia ingin membantu adik-adiknya (sesama tukang pijat-tuna netra) dengan memberikan kamar mess itu.

Tak habis pikir, si trainer ini bertanya kembali, kenapa ia berlaku begitu. Mas Kus mejawab bahwa kini ia sudah berpenghasilan dan karena itu ia harus belajar mandiri. Si trainer ini bertanya kembali, apakah penghasilannya cukup dan masih tersisakah uang untuk ditabung. Mas Kus kembali menjawab, dengan tenang, bahwa penghidupannya masih mencukupi dan masih bisa menabung, walaupun hanya beberapa perak.
Kembali penuh keheranan, si trainer bertanya, untuk apa uang tabungannya kelak. Mas Kus mengungkapkan kisahnya, bahwa ia terlahir buta dan merasa sebagai orang paling naas di dunia. Tidak pernah melihat indahnya mentari pagi, warna-warni bunga, dll. Namun, ketika orang tua-nya memasukkan ia ke panti, ia sadar bahwa dirinya tidak se-naas itu. Ada banyak orang yang mengalami nasib serupa.

Sejak saat itu, ia bertekad untuk bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain, meski dengan keterbatasannya. Ia tidak ingin terkungkung dalam perasaan itu. Oleh karena itu, tabungannya kelak akan dibelikan gitar agar dengannya ia dapat membahagiakan orang dengan nyanyian. Si trainer mendengar dengan seksama dan mulai dihinggapi perasaan aneh. Sederhana, menyentuh, dan dalam.

Setelah beberapa hari, si trainer berkunjung ke rumah Mas Kus dan membawakan gitar miliknya. Ia kemudian menyodorkan gitar itu dan Mas Kus mulai memainkan beberapa lagu. Ada pemandangan yang indah di situ, raut wajah Mas Kus menyiratkan kebahagiaan yang tidak terucap. Si trainer mengatakan kepada Mas Kus bahwa ia dengan tulus-ikhlas ingin meminjamkan gitar itu sampai Mas Kus memiliki gitar sendiri.

Namun, seperti yang telah diduga sebelumnya, Mas Kus memasukkan gitar ke sarungnya dan mengembalikan kepada si trainer. Sekali lagi si trainer mengatakan bahwa ia tulus-ikhlas dengan semua ini. Apa jawaban Mas Kus? Katanya, ’izinkan saya membahagiakan adik-adik saya dengan keringat saya sendiri’... Perasaan itu hinggap lagi, sederhana, menyentuh, dan semakin dalam.

Ada lagi kisah yang lain, kalau sudah pernah nonton film-nya pasti tahu kisah ini. Kisah seorang anak perempuan 15 tahun, Ikeuchi Aya yang divonis mengidap penyakit langka yang menyerang otak (lupa namanya^_^) dan menyebabkan kematian secara perlahan. Yup, 1 litre of tears. Diawali dengan kematian fisik akibat rusaknya koordinasi dengan otak secara bertahap hingga kematian sebenarnya.
Tapi, apa yang telah dipilih Aya adalah sesuatu yang luar biasa. Melalui Aya No Niki (buku harian Aya) yang diterbitkan, ia telah menjadi inspring to stay alive bagi banyak orang, terutama orang yang bernasib serupa. Hingga akhir hayatnya ia tetap menjadi pribadi yang bersemangat dan setelah kepergiannya ia tetap hidup di hati banyak orang. Jadi teringat, keinginannya di akhir buku harian: live on, forever...

Pastinya masih banyak kisah lainnya tentang kesejatian manusia di sekitar kita. Tentang makhluk bernama manusia yang ditakdirkan dengan keterbatasan, namun hendak atau bahkan telah berhasil menyentuh pelangi dan menjadi sebuah kemanfaatan bagi manusia lainnya. Kisah yang terkadang sederhana, bisa jadi menyentuh, namun yang pasti sangat dalam makna-nya.

Fragmen-fragmen kehidupan ini bisa jadi merupakan salah satu bentuk tarbiyyah (pengkaderan) langsung dari Allah kepada kita, jika dan hanya jika kita mau melihat, berpikir, dan merasakan sekitar. Alhamdulillah, atas kesempurnaan fisik penciptaan kita. Namun, kini pertanyaannya adalah sudah sampai tangga mana kita hendak menyentuh pelangi? (diambil dr situs tetangga)

Friday, June 29, 2007



Ketika Susu Boyolali Tak Lagi Segar

DAERAH ini tak banyak berubah. Masih seperti dulu. Di sana-sini, patung sapi tampak kokoh berdiri di setiap sudut kota. Patung-patung itu pun berjejer teratur. Mulai dari yang di tengah pertigaan jalan hingga sejumlah kantor atau di beberapa rumah-rumah penduduk setempat.

Ukurannya beragam. Besar dan kecil. Namun, kendati begitu, ada satu kesamaan: patung-patung itu dicat hitam putih. Dan, patung-patung sapi itu bisa disebut sebagai simbol daerah ini. Sepintas menegaskan bahwa di dalamnya terdapat usaha peternakan yang begitu berkembang, sekaligus menjadi tulang punggung ekonomi bagi penghuninya.

Boyolali, begitulah ia disebut. Diakui, debutan sebagai salah satu sentral peternakan di Jawa Tengah tak bisa dipisahkan dari identitas daerah ini. Terutama usaha tani sapi perah. Boyolali pun terkenal dengan julukan sebagai kota susu.

Sebab, iklim yang sejuk karena topografi wilayah yang terletak di ketinggian 200-1500 meter di atas permukaan laut (dpl), sangat mendukung keberadaan peternakan sapi perah di daerah ini. Budidaya sapi perah di Boyolali tersebar di enam kecamatan di antaranya Cepogo, Boyolali, Mojosongo, Musuk, Selo dan Ampel.

Total produksi susu yang dihasilkan peternak sapi perah di enam kecamatan tersebut mencapai 31.177.928 liter dengan rata-rata per hari sebesar 75 ribu liter sampai 80 ribu liter. Angka itu merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Dengan populasi sapi perah mencapai 58.792 Ekor.

Selama ini, susu asal Boyolali menopang kebutuhan industri pengolahan susu (IPS) yang berada di Jawa Tengah, Yogyakarta maupun Jakarta. Susu Boyolali juga memenuhi kebutuhan susu segar di wilayah sekitar kabupaten itu sendiri, seperti Solo, Klaten, dan Semarang.

Namun sayang, produksi susu yang berlimpah tersebut tidak didukung oleh industri pengolahan susu. Proses pemasaran produksi susu dari peternak selama ini ditangani oleh Koperasi Unit Desa (KUD) di masing-masing kecamatan.


Setelah itu, disetorkan ke Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Selanjutnya dari GKSI, dipasarkan ke industri pengolah susu di luar Jateng, seperti PT Sari Husada di Yogyakarta, PT Nestle di Jawa Timur, dan PT Indomilk di Jakarta.

Kondisi inilah yang membuat peternak sapi di Boyolali kian merugi. Harga jual susu tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli pakan ternak. Mereka pun tak berdaya menghadapi ketentuan yang ditetapkan industri pengolahan susu. Terutama soal penetapan harga jual susu segar di tingkat peternak.

Akibatnya, kini peternakan sapi perah di Boyolali tengah terancam. Tak sedikit dari mereka yang beralih ke usaha penggemukan sapi. Hal itu disebabkan terlalu rendahnya harga susu. Produksi susu di kabupaten itu pun kian tergerus.

Doko (35), peternak asal Desa Musuk menyatakan, rendahnya harga jual susu mengakibatkan dirinya kini tak bergairah lagi melanjutkan usaha tani tersebut. Menurut dia, kondisi ini umum terjadi pada seluruh peternak sapi perah di Boyolali.

Dikatakannya, kalau pun masih ada yang memeras susu hanya sekadar untuk pekerjaan sampingan dan mengisi waktu luang. “Memeras susu dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu hanya merugi,” ucapnya ringan.

Doko mengungkapkan, harga makanan ternak sekarang ini cenderung naik sehingga biaya pemeliharaan satu ekor ternak berkisar Rp 10.000 per hari. Biaya sebesar itu untuk membeli konsentrat, katul, dan ketela pohon.

Sedangkan, setiap ekor sapi perah terkadang hanya memproduksi lima liter susu per hari. Dengan demikian, dengan harga saat ini yang berkisar antara Rp1.400—Rp1.500 per liter, maka hasil penjualan susu KUD hanya menerima Rp7.500 per hari per ekor.

'”Kalau punya lima ekor sapi dengan produksi susu 25 liter per hari sih, masih bisa untung. Tapi kalau kaya saya ya rugi. Lha wong punyanya 2-3 ekor saja. Jadi bisa bangkrut,” tutur Doko yang mengaku akan mencoba mencari usaha lain karena menilai memeras susu sudah tak bisa diharapkan lagi. (tur)


Demak, Si Miskin yang Dermawan

Pergilah ke Demak, di sana tersimpan pesona yang melimpah. Ada masjid Agung Demak, makam kadilangu, grebeg besar, alat musik rebana, ukir gebyok, kaligrafi, dan sanggul. Ingin melihat pesta sedekah laut? Demak juga punya. Namanya Syawalan Morodemak.

Di sana juga ada acara Garebek. Sebuah tradisi tahunan jamasan (memandikan) pusaka Kyai Crubuk milik Sunan Kalijaga, Kyai Siri’an miliki Kesepuhan, dan Kotang Ontokusumo milik Raden Fatah.

Setiap acara itu berlangsung, warga Demak selalu ramai dan memadati alun-alun Kia Turmudi sampai Jogoloyo. Mereka minta keberkahan dan reziki. Terutama para pedagang kaki lima dan jajanan.

“Tumpengnya selalu laris lho, sambil membagikan, biasanya saya bilang, ‘semoga dagangannya laris ya…banyak dapat rezeki’,” ucap Bupati Demak, Endang Setyaningdyah.

Hebatnya sekali Garebek, Demak mendapatkan pemasukan kas derah Rp198,6 juta hingga Rp250 juta. Kas itu berasal dari para pengunjung dan peziarah makam yang tumpah ruah.

Selain itu, Kabupaten ini juga memiliki buah khas: blimbing dan jambu delima. Kekhasan yang mengingatkan kita akan sebuah syair Jawa: iliir-illir.

Berkat blimbing, Demak jadi terkenal. Malah buah ini menjadi brand di tiap gapura-gapura rumah. Blimbing Demak juga memberikan pemasukan daerah yang lumayan. ”Dijual di Supermarket mahal mas, sebuah mencapai Rp4.000,” kata Imam (35), warga kota Semarang.

Jika Anda kenal dengan bakpia khas Yogyakarta, siapa sangka kalau kacang hijau yang dijadikan bahannya itu berasal dari Demak. Harganya cukup tinggi dan menguntungkan orang sana, yaitu Rp3.500 hingga Rp5.000 per kg.

Di sana kacang hijau di produksi pada lahan sekitar 10 hektare dengan total produksinya 24,5 ton per musim panen. Kini, perluasaan lahannya mencapai 24 hektare yang tersebar di 14 kecamatan dengan produksi hampir 32 ton per musim.

Demak juga erat dengan sebutan Kota Wali. Tempat Sunan Kalijaga (yang hidup 1455—1586 M) berada. Sejarah mencatat, Demak juga tempat kerajaan Islam pertama di Indonesia saat Raden Fattah memimpin.

Kebesaran itulah yang membuat Demak merupakan daerah yang tiap tahunnya dikunjungi ribuan peziarah dari segala penjuru. Tercatat saat puasa tiba, setiap hari Demak menyerap 10.000 orang pengunjung dan saat sepi 5.000 orang. Dari peziarah itu pula Demak setiap hari menerima pemasukan rata-rata Rp10 juta per hari dari pengelolaan makam Sunan Kalijaga.

Kalimat promosi di atas bukanlah isapan jempol belaka. Demak memang kaya potensi. Dari aset daerah itu, Endang mampu memberikan pengobatan gratis pada warganya. Bidan dan dokter Demak selalu siap membantu dan warga yang berobat tidak dipungut biaya.

Tidak itu saja, Universitas Sultan Fatah Demak adalah perguruan tinggi dengan SPP paling murah. “Tak hanya di Indonesia, tapi di dunia. Sultan Fatah, SPP-nya paling murah,” tegas Endang.

Menurut dia, pemerintah daerah juga selalu memberikan bantuan daging 5 kg dan beras 10 kg tiap bulannya pada setiap guru PNS. Pengajar surau dan madarasah juga diberi insentif. Mereka mendapat gaji tambahan Rp50.000 tiap bulan. “Biar warga Demak bisa tertawa. Menikmati hasil daerahnya sendiri,” kata Endang.

Namun, siapa sangka? Bila merupakan daerah termiskin di Jawa Tengah? Pendapatan per kapita penduduknya hanya Rp2 juta per bulan. Dengan Pendapatan Aseli Daerah (PAD) Rp8 miliar per tahun.

Sedangkan 41% dari 200 ribu penduduknya masuk kategori miskin. Warga yang berpendidikan strata satu hanya 2%, berpendidikan SLTA (3%), dan sisanya (95%) lulusan sekolah dasar atau tak sekolah sama sekali.

“Mereka kebanyakan orang pesantren. Pendidikan umum tak seberapa diperhatikan,” kata Endang. (tur)

*suatu waktu kala menyusuri sisi demak