Thursday, September 04, 2008

Mudik, Jalan, Mudik....!

HARI mendadak mudik. Hehe, bukan berarti pulang kampung. Tapi, baru saja selesai ngisi form-form liputan mudik. Wadauuu...seperti biasa, tahun ini kena jatah lagi meliput kesiapan jalan di jalur pantai utara dan selatan. Tujuannya sih, gak jauh-jauh. Cuma sampai Purwekerto terus balik lagi ke Jakarta.

Nah, saya berangkat rencananya, Rabu 10 September esok. Pulang Minggu. Lumayan juga tuh, pasti bisa bikin aku patah tulang. Untungnya, aku punya kenalan dari manajemennya Anissa Bahar. Jadi, bisa diajarin dulu deh, goyang patah-patah....hahahaha...So, di jamin, meski badan bakal remuk redam tapi karena dibawa bergoyang, akan balik modal....

Tapi, ada yang ganjel nih! Puasa...puasa, pasti jadi agak susah ibadanya. Secara tak langsung, perjalanan-perjalanan keluar kota kayak gini, pastilah membuat aku jadi terganggu. Wah, bisa gak khusu' nih ibadanya di Ramadan.

Jadi, ingat tahun lalu. Puasa pertama sampai hari keempat ada di Lombok. Buka puasa di Segigi. Cari makan agak susah. Jatuhnya, makanan padang melulu. Belum lagi, karena pas musim panas, energi terkuras setelah seharian mutar-muter liputan. Trawihnya pun gak jelas. Gara-gara start yang buruk itulah, aku harus legowo bila satu bulan berpuasa terasa hambar..Aku cuma lapar dan haus saja secara fisik yang akan selesai, bila dahaga dan lapar terobati. Namun, ruh ini? Mana ketehe.....????

Terus, tahun sebelumnya, ceritanya nyaris sama. Lagi di Banjarmasin. Berputar-putar hingga berujung di Entikong. Weleh-weleh, bener-bener mabok....

So, doakan, aku bisa berpuasa dengan tenang dan sesuai hakikat tahun ini. Aku juga akan berbagi cerita jalan-jalan. Sekalian berbagi info makanan enak..... Allohuakbar!!! Jangan nyerah sama kerjaan!

Mulai dari yang ringan....

LAMA gak ngeblog, kangen juga. Sebenarnya sih, ingin memulai lagi dengan yang ringan-ringan saja. Yah, mengembalikan blog-ku ini seperti pada trah-nya. Menjadi catatan elektronik harian, dan atau semua keluh kesah perjalanan tiap hari.

Well, meski tak ada yang liat, setidaknya aku sendiri saja deh yang liat. Lumayan kan, bisa dijadikan sebagai tempat menghibur diri di antara kegamangan dan kekesalan duniawi.

Go, go, up date lagi. Kamu ada karena mau berbeda.....

Tuesday, June 17, 2008

kreatif

Sedikit Saja!

Dalam sebuah perjalanan ke Merak, saya bertemu orang yang benar-benar menurut saya sok tahu. Dia mengajak saya main tebak-tebakan, yang sebenarnya jawabannya cukup mudah untuk diterka.

Coba bayangkan, dia bertanya ke saya:
"Mas ada seekor kodok. Dia akan melompati sebuah kolam yang jaraknya
5 meter. Sekali melompat kodok itu mampu menempuh jarak 1 m. Jadi
coba, berapa kali lompatan yang dia butuhkan untuk menyebrangi
kolam itu?"
"Ah, gampang!"
"Ayo, berapa?
"Ya, tinggal tambahkan saja toh. Pasti lima lompatan lah!"
"Wah, salah!"
"Lho...? Apanya?"
"Ya itu! Pokoknya salah!"
"Lha, apanya?"
"Kodok itu kan memang melompat, tapi kalau di air dia berenang. Jadi
dia cukup dua kali melompat. Turun dan naik. Selanjutnya berenang!"

Wah, busyeettt! Saya jadi bingung sama orang satu ini. Saya yang sudah gede begini dan masih hapal betul rumus statistik dan fisika dikibuli soal angka dan logika sama orang yang menurut saya sok tahu itu!

Tapi, upssss...bukankah gara-gara acara kibul-kibulan itu orang sulit ditunjuk mana yang salah dan mana yang benar? Dan lebih lagi, gara-gara angka itu orang jadi hatinya gelap? Sulit berucap? dan suka berlogika kalap? Lantas berbisik: "Sttt...ini angka sekian jeti untuk bikin logika publik! jangan bilang-bilang yah!"

Sekarang coba pikirkan lagi! Lantaran logika angka, Mulyana yang mestinya cuma tinggal satu kali lompat harus terjerat? Lalu, Hamid Awaluddin juga ikut-ikutan berlogika, kalau angka yang dia dapat itu dibagi bagi?

Parah lagi, Madiri jadi sok sigap ikutan menghilangkan angka-angka itu? BRI bilang, TI itu tak bermasalah. Angka proyeknya bener kok! Coba lihat saja. Ga ada yang salah menulis angkanya. Tapi, saat logika di pakai, Lho???.....

***

Berbicara masalah angka ini, adik saya Rio yang kelas 6 SD pernah jengkel gara-gara dapat angka sedikit. Lantas, dia juga pernah sok hebat gara-gara angka sedikit juga.

Begitu pula sebaliknya, Rio selalu berjingkrak dengan angka banyak, tapi akan menangis dengan angka banyak juga. Lho? Jadi ada apa dengan angka sedikit dan banyak itu bagi Rio?

Coba sekarang kita bicarakan. Rio akan jengkel dengan angka sedikit tentu bila jatah uang jajannya dikurangi. Nilainya di bawah lima atau jatah kueh dan makanannya di ambil saya. Tapi, Rio yang bungsu itu juga akan sok hebat bila angka yang didapatkannya "nomor satu" di rapot, lomba pidato, atau bulu tangkis.

Terus Rio juga harus berjingkrak bila jatah uangnya besar dan nilai ujiannya besar. Tapi dia mesti menagis kalo peringkatnya di bawah sepuluh besar.

Walah...jadi sebenarnya baiknya dapat angka sedikit atau besar? Tentu jawabnya berbeda-beda. Kalau anggota dewan yang bilang pastilah: gajinya diperbesar. Kalau bisa sampai gaji ke enam belas. Tunjangannya ditambah. Lalu semua intensifnya jangan dikurangi.

Dan, anggota dewan tak pernah mau mendapatkan yang sedikit. Sebab rapat tidak sah bila kurang dari setengah ditambah satu. Rapat fraksi selalu gagal bila yang hadir cuma satu. Parahnya lagi, meskipun proyeknya hanya satu tapi harus sah bila dibagi banyak...!

Lantas, kalo presiden selalu pidato: Indonesia ini banyak pulau! Jangan dibagi-bagi lagi! Karena negara yang besar ini akan disegani bila kita bersatu.

Tapi, anehnya gara-gara orang yang banyak ini pengemis yang pernah saya temui selalu bilang: mas minta sedikit saja, biar saya bisa makan. Mas, bagi sedikit uang saja, untuk mengganjal perut hari ini. Mas...sedikit...saja!

***

Sebenarnya Rio mengingatkan saya akan perilaku bangsa ini. Kesenangan Rio dengan angka sedikit, bila ia mendapatkan prestasi. Lalu kegirangannya dengan angka besar itu muncul saat ia berhasil mengkorupsi angka belanjaan ibu yang banyak.

Duh...saya jadi bingung! Saya tak tahu lagi kalau bebicara masalah Indonesia yang banyak ini. Provinsinya banyak, pejabatnya banyak, penganggurannya banyak,angkatan kerjanya banyak, perangkat hukumnya banyak, aturan mainnya banyak, keluarganya banyak, dan naifnya korupsinya banyak juga! Mulai dari Rio hingga semua santero.

Mengapa Indonesia ini tak meniru kebahagiaan Rio saja? Yang suka bila dapat angka sedikit karena prestasi? Dan sedih dengan angka banyak akibat korupsi?

Dan kelas sosial itu terlalu banyak, hingga bagilah buat orang-orang yang berangka sial? Yang PAD banyak tapi selalu mengucur sedikit? Yang potensi wilayahnya banyak tapi selalu meminta sedikit saja....!

Wednesday, May 21, 2008

menikah



Lagi, Soal Nikah

Seorang sahabat mengirimkan artikel ini ke saya. Maksudnya mungkin terang untuk mengejek saya yang sampai kini tak kunjung menikah. Padahal, umur saya baru 26 tahun. Tapi kenapa ya, banyak orang yang sudah menginginkan saya segera punya pendamping. Well, aku posting saja di sini. Biar ada orang lain yang ikut membaca. Jadi gak kesindir sendirian deh!


Aku Takut Menikah Karena Belum....

1. Belum Bekerja

Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak. "mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang ?!?" Begitulah perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya.

Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi seluruh anggota keluarga adalah tanggung jawabnya. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Bertaqwalah kepada Allah dalam memperlakukan wanita. Sebab kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan cara yang baik." (HR.Muslim)

Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun sebenarnya, tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah SWT berfirman, yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Surat An-Nur : 32)

Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata banyak tawaran kerja dan peluang kerja.

Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan dan prestasi yang bagus masih merupakan suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah sudah terlanjur tidak karuan ? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal dipelajari dalam jenjang pendidikan formal.

Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung, juga bisa untuk jaga-jaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima bekerja sesuai bidang yang dipelajari.

2. Belum Lulus

Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk menikah gara-gara belum lulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot.

Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping hidup baru bisa menambah semangat untuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan hidupnya.

Memang benar untuk tetap mengadakan persiapan jika mengambil jalan menikah di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan pelajaran.

Pusing....? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri. Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu kesulitannya.

3. Belum Cocok

Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula, padahal sudah hampir tidak tahan ! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan. yang jadi pertimbangan dasar dan awal tentu saja faktor agama, yaitu aqidah dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya :

"Mereka (perempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka." (Al-Mumtahanah : 10)

Rasulullah juga bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain).

Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya, warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya...dan lain-lain.

Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan, pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah.

Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau ustadznya, atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain." (HR.Muslim)

Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya. Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan perasaan suka. Karena itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri.

4. Belum Mantap

Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi, baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah 'belum' di atas.

Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan pernik-pernik di sekitarnya. Orang seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga 'belum' di atas, karena memang dia merasa belum siap dan belum mampu.

Solusinya tidak lain adalah memantapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan, dan keluarga, baik dengan menghadiri pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya. Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah.